Saturday, April 16, 2011

Belajar dari kesungguhan Yabes


Belajar dari kesungguhan Yabes

Kira-kira jumat tengah malam, ada suatu dorongan buat saya untuk berdoa dan menghadap tahtaNya. Entah keberapa kalinya, Tuhan berbisik kepada saya melalui angin sepoi-sepoi untuk datang ke hadapanNya. Saya merasakan diri saya yang sekarang tidak mampu untuk berjalan menghadapi banyak tantangan di bulan-bulan ini. Saya juga berdoa untuk kesekian kalinya atas kelepasan saya dari manusia lama dan sgala ikatannya. Kemudian saya mendapat rhema tentang doa Yabes, yang dulu pernah saya baca dari buku "The Prayer of Jabez-Bruce Wilkerson " hampir 8 tahun yang lalu. Dulu apa yang ditulis oleh Bruce Wilkerson sempat menjadi kontroversial karena seakan-akan beliau menekankan pada teologi kemakmuran dan hanya membahas pada satu sisi dari sifat Allah saja, yaitu suka memberkati. Sudah hampir 8 tahun itulah, buku itu hanya saya simpan di lemari, tanpa ada maksud membukanya kembali. Namun entah kenapa, hari itu, Tuhan ingatkan saya tentang Yabes, doa dan sikap hatinya.

I Taw 4:9-10 Yabes lebih dimuliakan dari pada saudara-saudaranya; nama Yabes itu diberi ibunya kepadanya sebab katanya: "Aku telah melahirkan dia dengan kesakitan." Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya: "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" Dan Allah mengabulkan permintaannya itu.



Ada 4 bagian kehidupan yang Yabes minta dari Tuhan
, dan Tuhan sepakat dengan isi doa Yabes. Apakah doanya itu suatu doa yang sifatnya "emergency" bagi Tuhan? Tidak dijelaskan dalam 1 Tawarikh. Namun saat itu, saya sadar bahwa sebenarnya Yabes hanya menginginkan satu hal saja dari Tuhan atas hidupnya, yaitu hidup bergantung dengan Tuhan.

Kenyataannya doa Yabes sekarang menjadi begitu terkenal karena banyak anak Tuhan memakainya seperti jimat atau klaim janji berkat di hadapan Tuhan, tanpa berurusan dengan hati kita yang terdalam dengan Tuhan. Banyak dari kita mengharapkan kekayaan material dan popularitas dari hasil doa Yabes, tanpa menyadari bahwa tipis bedanya antara hidup dalam berkat Tuhan dengan hidup dengan kepuasan daging. Jika kita berpikir bahwa "burung puyuh-burung puyuh" yang Tuhan berikan atas kita adalah berkat buat kita, tanpa kita mengerti rasa cukup, maka perhatikan ayat selanjutnya di Bilangan 11:33 tentang bagaimana Tuhan mendidik bangsa Israel dengan keras; Karena saat "burung puyuh-burung puyuh" diberikan, keluarlah karakter mereka sesungguhnya yang rakus/serakah, berfokus pada diri sendiri dan lupa mengucap syukur kepada Tuhan. Berkat Tuhan yang melimpah bisa menjadi ujian batu loncatan atau malah menjadi batu sandungan dalam hidup kita, tergantung kesiapan karakter kita. Perhatikan baik-baik ! Kita bertanggung jawab dengan apa yang kita serukan di hadapan Tuhan.

Walaupun demikian, saya rindu menshare-kan tentang Yabes, karena Firman Tuhan mencatat bahwa Yabes lebih dimuliakan daripada saudara-saudaranya dan Tuhan sepakat dengan doanya dengan mengabulkannya, terlepas dari apakah Yabes tetap berkenan di hadapan Tuhan setelah doanya dikabulkan. Banyak orang yang "lupa daratan" saat Tuhan memberkati hidupnya, sehingga keadaannya menjadi lebih buruk dari sebelum Tuhan memberkatinya. Namun, cukup banyak juga orang yang tetap berkenan di hati Tuhan setelah Tuhan memberkatinya dengan berlimpah.

Siapakah Yabes?

Jati diri Yabes dimulai dengan sebuah ayat " Ia diberikan nama Yabes oleh ibunya, karena ibunya sangat menderita ketika melahirkan dia. "(ay 9-terjemahan sehari-hari)

Yabes (arti namanya: " sorrowful, dry"), salah satu keturunan Yehuda, dilahirkan dengan sebuah beban besar yang terus ia bawa selama hidupnya. Ia tidak diharapkan oleh ibunya, mungkin ia ingin digugurkan oleh ibunya, namun ternyata tidak bisa digugurkan. Mungkin bagi ibunya, Yabes adalah suatu kesalahan, suatu aib yang ditanggung ibunya. Kemudian, ibunya melahirkannya dengan kesakitan bersalin yang besar. Sudah menjadi adat turun temurun bahwa orang tua memberi nama kepada anaknya sebagai identitas diri anaknya di masa depannya. Ibunya memberikan identitas yang membuat bahan ejekan bagi orang lain. Mungkin ia berdoa kepada Tuhan, karena Yabes sudah tidak tahan hidup dalam kesakitan ("kepahitan, kekecewaan, rasa tertolak"). Ia menginginkan hidup baru yang berbeda, ia sudah memutuskan untuk mengakhiri hidup kesakitan ini, dan menjadikannya sebagai masa lalu yang harus diserahkan kepada Tuhan. Hanya Tuhan yang sanggup mengubahkan hidup Yabes, maka dari itu Yabes merendahkan dirinya di hadapan Tuhan dan meminta berkat dan pertolongan Tuhan yang radikal dalam hidupnya.
Agaknya, Yabes mengetahui darimana nama Israel ada, yaitu seorang Yakub yang diindahkan Tuhan dengan nama baru. Nama baru berarti identitas yang baru, arti hidup yang baru, dan itu semua Yakub dapat dari Tuhan. Itulah kunci pengetahuan yang Yabes terima  sehingga membuat ia percaya dan mengenal Allah Israel.

Mazmur 69:34 Sebab TUHAN mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya dalam tahanan.
Amsal 3:34 . . .tetapi orang yang rendah hati dikasihani-Nya.


I Taw 4:10 Jabez cried to the God of Israel, saying, "Oh, that You would bless me and enlarge my border, and that Your hand might be with me, and You would keep me from evil so it might not hurt me!" And God granted his request.(Eng Amplified)

4 Poin Bagian Doa

Berkati aku seperti bilamana ayah memberkati anaknya.
" Father, You would bless me indeed!"

Yang mengherankan saya, firman Tuhan tidak mencatat siapa nama ayah-ibunya, agaknya si penulis Tawarikh tidak bisa menemukan garis asal nenek moyangnya sesudah Yehuda. Mungkin Yabes sepertinya benar-benar tidak dihiraukan dari kaum kerabat dan tempat dia tinggal, jadi seakan-akan Yabes adalah orang asing di tengah-tengah kaum sebangsanya. Di tengah kehidupannya yang sendiri, dia banyak menyaksikan kebersamaan seorang ayah dan anak, bagaimana ayah memberkati anaknya.  Saat itulah Dia mungkin berandai-andai memiliki ayah; Namun ia akhirnya menyadari ayah yang sempurna hanya ia dapatkan dari Tuhan Allah Israel. Itulah yang membuat Tuhan tergerak untuk menjawab doanya.

Kita harus bertumbuh dalam pengenalan yang lebih dalam dengan Tuhan. Menurut kita, siapa Pribadi Tuhan yang kita sembah? Hubungan macam apa yang kita miliki denganNya? Sedekat apa hubungan kita dengan Tuhan, itulah yang membuat Tuhan tergerak dengan isi doa kita.

Efesus 1:3-4 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.

Berkat rohani sudah Ayah sediakan bagi kita, entah berkat perlindungan, berkat menikmati kekayaan, berkat menjarah, berkat kesembuhan, berkat kemenangan, karunia/kuasa Roh Kudus, dan masih banyak hal lainnya, namun siapakah yang siap untuk memintanya? Maksud saya, adalah memintanya seperti seorang anak yang memiliki hubungan dekat dengan ayahnya.

Yoh 15:7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.

Saya selalu berdoa, "Tuhan berkati aku, pakai aku, berikan aku berkat rohani yang menurut Tuhan sesuai buat aku, yang menurut Tuhan perlu ada dalam aku!" Saya tidak berdoa meminta berkat yang bisa membuat saya hilang dari perlindunganNya, saya tidak berdoa meminta berkat yang di luar jatah saya. Saya berdoa meminta berkat yang menjadi bagian saya, harta warisan rohani yang khusus Ayah persiapkan buat saya. Kesalahan anak bungsu di Lukas 15:12 adalah bukan karena meminta harta warisan yang menjadi haknya, namun mengabaikan kedaulatan ayahnya untuk memilihkan harta yang terbaik buatnya dan tidak mau senantiasa bersama-sama dengan ayahnya. Di perumpamaan tersebut, anak bungsu percaya bahwa ayahnya akan memberikan apa yang menjadi permintaannya, lain halnya dengan anak sulung yang serasa bukan menjadi anak di keluarga ayahnya.

Percayakah bahwa Ayah memberkati kita selayaknya anakNya? Maukah kita biarkan Ayah memilihkan harta warisan bagian kita, yang terbaik buat kita? Maukah kita tetap tinggal dalam Tuhan senantiasa, entah harta itu sudah diberikan atau belum?

Perlebar batas kapasitasku untuk terima yang lebih lagi dari surga.
"Enlarge my border in spirit !"

Pintu surga sedang terbuka kepada anak-anak Tuhan di akhir zaman ini. Kunci-kunci dan jubah-jubah sedang Tuhan turunkan dari surga bagi mereka yang siap, melihat dengan mata iman dan sesuai takaran iman tertentu. Tuhan pasti memberkati kita, namun persiapkan wadahnya terlebih dahulu sebagai bukti iman kita. Kita harus rela dipersiapkan Tuhan untuk dipakai dan diberkatiNya.

"Dipersiapkan Tuhan untuk dipakai/diberkati" artinya bukan hanya berbicara tentang memiliki karunia dan kuasa, tapi lebih penting kepada memiliki karakter rohani yang menjadi dasar penopang karunia dan kuasa yang Tuhan beri. Itulah yang membutuhkan harga yang harus dibayar.


II Raja 4:3-6 Lalu berkatalah Elisa: "Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit . . . Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: "Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi," tetapi jawabnya kepada ibunya: "Tidak ada lagi bejana." Lalu berhentilah minyak itu mengalir.

Saat wadah-wadah untuk mengisi minyak-minyak tersebut sudah habis, maka berhentilah minyak itu mengalir. Seberapa besar bejana tanah liat yang kita persiapkan untuk menampung kemuliaan harta rohani? Perhatikan, Tuhan menginginkan wadah sebuah bejana tanah liat bukan wadah yang lain. Bejana tanah liat berbicara tentang orang yang lulus dari ujian proses karakter, orang yang memiliki kerendahan hati yang sejati. Bejana tanah liat adalah tanah liat yang sudah mengalami pembentukan, peremukan dan pemanasan pada suhu panas tertentu.

II Kor 4:7 Tetapi harta ini(harta rohani) kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. 

"Enlarge my territory in faith! Enlarge my territory in character! Enlarge my territory in heart!" Itulah doa saya. Saya tidak berdoa tentang besarnya berkat, tapi saya berdoa tentang besarnya wadah penampung berkat itu. Saya rindu memiliki kapasitas karakter rohani dan iman yang lebih lagi dari sekarang. Ketakutan dan kekuatiran saya yang menjadi musuh iman, harus dihadapi dan dihancurkan.

Pertahankan aku senantiasa oleh tanganMu di hari-hari masa depanku. 
" Your Hand might be with me!"

"Pertahankan aku, Tuhan!" "Biarlah tangan pemeliharaanMu tak berlalu dari aku! Biarlah tangan perlindunganMu tak berlalu dari hidupku!" Banyak hal yang tidak kita ketahui di hari esok, banyak pula strategi si jahat yang terus berusaha menghancurkan kita, belum lagi berbicara tentang keletihan jasmani dan rohani kita, yang bisa membuat kita kehilangan "moment" penting dari Tuhan, bahkan keluar dari kasihNya.

Yabes meminta jaminan keselamatan dan perlindungan dari Tuhan, agar masa-masa sukar di depan dapat dia lewati, dapat dia hadapi tanpa kesakitan kembali. Saat kita diberkati, bukan berarti masa sukar tidak akan terjadi lagi. Saat kita menjadi anak Tuhan, bukan berarti kita tidak akan mengalami masalah, tapi Tuhan berjanji bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sedetikpun, walau dalam masalah. Kita akan melalui masalah demi masalah untuk membuat kita menjadi pemenang, semakin bertumbuh dalam setiap kesulitan. Amin !

Mazmur 61:4-5 Sungguh Engkau telah menjadi tempat perlindunganku, menara yang kuat terhadap musuh. Biarlah aku menumpang di dalam kemah-Mu untuk selama-lamanya, biarlah aku berlindung dalam naungan sayap-Mu! Sela

Daud mengakhiri pertandingan imannya dengan baik. Firman Tuhan mencatat, "Daud melakukan kehendak Allah di zamannya (Kis 13:36)", karena di dalam mazmur dan doanya, Daud meminta tetap berada dalam tangan Tuhan, dalam kemah Tuhan,  apapun yang terjadi. Daud berdoa agar dia tetap dipertahankan Tuhan, tetap Tuhan tegur, saat dia sedang dalam dosa, kekelaman hidup bahkan saat merasa hidupnya benar sekalipun.

Mazmur 51:13 Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! 

Biarkan aku benar-benar lepas dari ikatan-ikatan iblis masa laluku. 
"Keep me from evil! "

Menjadi manusia baru yang diberkati Tuhan, bukan berarti secara spontan hati kita sudah tidak mengingini keberadaan keinginan manusia lama. Walaupun Bangsa Israel sudah keluar dari Mesir, namun Mesir masih ada dalam hati bangsa Israel. Kita harus izinkan Tuhan mencangkul, mengambil batu dan mencabut setiap akar masa lalu di setiap bagian dari tanah hati kita, sampai kita benar-benar tidak mengingini apapun selain Tuhan.




Saya ingat di sekitar tahun 2000, Tuhan berkata kepada saya melalui perkataan dan penumpangan tangan seorang hamba Tuhan bahwa Tuhan akan mencangkul dan mengambil setiap kerikil kerikil dari tanah hati saya. Sudah 10 tahun berlalu, tapi saya tetap rasakan proses demi proses bagaimana Tuhan terus mencangkul dan mengambilnya. Ketika hati saya terus dicangkul Tuhan, berarti tanah hati saya terus digemburkan Tuhan agar tidak menjadi keras dan padat. Ketika hati saya gembur, berarti tanah hati saya bisa menyerap air dan makanan yang Tuhan berikan kepada saya. Kelak benih-benih Firman yang telah Tuhan tabur di hati saya, dapat berakar, bertumbuh dan berbuah, karena benih-benih itu menyerap mineral-mineral dari tanah hati saya.

Seperti yang pernah saya tulis di posting saya sebelumnya bahwa mengikut Tuhan itu harus melepaskan yang lain selain Tuhan. None but Jesus. Jangan biarkan ikatan masa lalu, ikatan manusia lama mempengaruhi apa yang akan kita kerjakan di hari esok. Jangan biarkan cara berpikir manusia lama ada dalam hidup kita. Mengikut Tuhan berarti mengikuti kehendakNya, mengikuti hatiNya.

Doa Yabes sebenarnya masih relevan dalam akhir zaman ini, karena kita bisa menemukan makna rohani yang berbeda tergantung perenungan dan hikmat Tuhan atas masing-masing orang.

Blessed To Bless...

Mark my Word


Mark my Word by Reinhard Bonnke

April 16

"Kiss The Son"


Your Kingdom come, Your will be done, on earth as it is in heaven. (Matthew 6:10)

I will obey the Lord and do business till He comes.

The apostle Peter said, "Therefore let all the house of Israel know assuredly that God has made this Jesus, whom you crucified, both Lord and Christ." Jesus Christ took that office when He ascended to heaven. In order to carry out the work, He must return. It can only be accomplished on earth. That was always God's purpose.

Jesus was born to die. The disciples feared, and probably hated, the religious leaders and the Romans who put Jesus to death, but they quickly learned that even His death was part of His plan:

"Thus it was necessary for the Christ to suffer and to rise from the dead the third day, and that repentance and remission of sins should be preached in His Name to all nations, beginning at Jerusalem. And you are witnesses of these things."

From that understanding, they learned to extend forgiveness and reconciliation, even with those who persecuted them. This they could do because they respected and honored the Kingship of Christ Jesus, and took up His assignment to them: "Go into all the world and preach the Gospel to every creature."

The everlasting King is poised on the threshold - "the government will be upon His shoulder." He will take over global responsibilities. No power on earth or in hell can prevent it! Psalm 2 warns the nations: "Kiss the Son, lest He be angry and you perish from the way when His wrath is kindled but a little." Blessed are all those who put their trust in Him. When He comes, the whole world in every corner will know. He will remove from His Kingdom everything that offends. His coming is as sure as the dawn.

How do you and I know Christ is returning? Christians everywhere are praying, "Even so, come Lord Jesus." "Thy Kingdom come!" ... and those prayers will be answered any day now! And while we are waiting upon His return, we obey His command: "Do business till I come!" We do not just sit around waiting for Him to return, but continue doing the work of the Kingdom - winning souls! "He who wins souls is wise." Today, that should be your occupation and mine!


Wednesday, April 13, 2011

Jurnal SHRK April 2011 - Hari ke-3


Bahan Renungan: Yesaya 6:1-6; Ayub 4:11; Bilangan 23:24, 24:9; Amsal 30:30  ; Nahum 2:11-12

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,

Sesi kotbah dimulai dengan pernyataan dari Pdt. Petrus Agung mengenai sebuah penglihatan yang dialami pagi harinya. Terlihat sebuah lapangan yang sangat luas dan penuh dengan sangat banyak orang yang tak terhitung. Di salah satu sisi lapangan tersebut ada sebuah tembok putih yang sangat besar dan di tengah-tengahnya ada sebuah gerbang emas yang besar. Orang-orang tersebut seperti sedang menanti sesuatu, namun tidak semua orang yang ada di depan gerbang mengerti apa yang sedang dan akan terjadi. Lalu Tuhan berkata bahwa hanya yang mengerti dan memahami akan masuk lebih dulu dan tidak selamanya gerbang emas tersebut terbuka. Jadi akan ada orang-orang yang tidak melalui gerbang emas tersebut. Dan gerbang emas resmi dibuka pada sore hari tanggal 6 April 2011, umat Tuhan bersiap-siaplah mengalami transfer kekayaan orang fasik dan kekayaan-kekayaan lainnya dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Sesi diselingi oleh pesan Tuhan yang secara langsung disampaikan oleh Stephen Timothy (anak sulung Ev. Iin W Tjipto). Saudara Stephen berbicara tentang kerub-kerub seprti yang tertulis di Alkitab (Keluaran 25:18; Mazmur 99:1; Yehezkiel 10:18) yang menyatakan bahwa kerub tidak pernah sendirian, selalu berpasangan seperti yang digambarkan pada tutup tabut pendamaian. Kebersamaan dan kesatuan para kerub menjadi kunci hadirnya kemuliaan Tuhan di tengah-tengah dunia.

Penjelasan pesan ini dijelaskan oleh Pdt. Petrus Agung bahwa kitalah kerub-kerub tersebut, kita berpasangan dan saling menyuarakan pujian & penyembahan satu sama lain yang akhirnya akan mengundang kemuliaan Tuhan secara nyata pada masa Salomo ini. (Yesaya 6:1-6).

Singa

Melanjutkan pembahasan firman penglihatan dari hari sebelumnya. Kita ketahui bahwa singa adalah lambang pemerintahan dan otoritas, dan seperti kita ketahui bahwa panggilan kita sebagai imamat yang rajani, maka ada beberapa hal yang Tuhan ingin tegaskan berkaitan dengan identitas kita yang satu ini.

  • "Singa binasa karena kekurangan mangsa, dan anak-anak singa betina bercerai-berai." Ayub 4:11 - Takdir kita adalah berburu, karena itulah sifat alami singa. Dan sebagai seorang berkarakter singa tidak boleh tidak berburu. Namun banyak orang percaya kehilangan fokusnya, tidak lagi berburu hal-hal kebenaran sehingga menjadi sesat (binasa).
  • "Lihat, suatu bangsa, yang bangkit seperti singa betina, dan yang berdiri tegak seperti singa jantan, yang tidak membaringkan dirinya, sebelum ia memakan mangsanya dan meminum darah dari yang mati dibunuhnya." Keluaran 23:24 - Menegaskan bahwa singa sejati tidak pernah tidak berburu, karena memang itu sifat alaminya. Sekarang kita perlu menanyakan kepada diri kita, adakah kita masih memburu seperti yang Tuhan mau. Atau kita sudah kehilangan ketajaman kita dan memilih untuk hidup aman di luar kehendak dan rencana-Nya.
  • "Singa, yang terkuat di antara binatang, yang tidak mundur terhadap apapun." Amsal 30:30 - Singa tetap fokus, tidak mundur apapun yang terjadi di hadapannya. Ini mengharapkan anak-anak Tuhan tidak terpengaruh oleh gangguan yang dilakukan Iblis untuk mengacaukan fokus kita. Tidak mundur, tetap fokus ke garis akhir yang Tuhan tetapkan.
  • "Di mana gerangan persembunyian singa dan gua singa-singa muda, tempat singa pulang pergi, tempat anak singa, di mana tidak ada yang mengganggunya? Biasanya singa itu ... " Nahum 2:11-12 - Sifat alami singa dalam berburu adalah dengan berkelompok, tidak sendirian. Hal ini menegaskan kaitannya dengan pesan Tuhan mengenai kerub-kerub yang juga berpasangan.
  • "Ia meniarap dan merebahkan diri sebagai singa jantan, dan sebagai singa betina; siapakah yang berani membangunkannya? Diberkatilah orang yang memberkati engkau, dan terkutuklah orang yang mengutuk engkau!" Bilangan 24:9 - Ke-singa-an hidup anak-anak Tuhan menjadikan kita disegani dan dihormati oleh dunia, sehingga siapa yang memberkati kita akan diberkati dan siapa yang mengutuki kita akan dikutuki oleh Tuhan.
Pada kesempatan ini, Tuhan dengan segala anugerah dan kebesaran-Nya memberi kesempatan bagi anak-anak-Nya di Jakarta untuk sekali lagi menyampaikan impian masing-masing kepada-Nya. Dan stempel disediakan dalam anugerah Tuhan untuk menyatakan pengesahan-Nya atas berkat besar Purim 5771 kali ini. Dan kali ini semua jemaat diajak sepakat bersama dengan Tuhan memasuki masa keemasan Salomo.
 
 
 
 
Blessed To Bless... 

Jurnal SHRK April 2011 - Hari ke-2


Bahan Renungan: Ayub 39:12-15, 22-28

Saudara-saudari kekasih dalam Tuhan Yesus Kristus,
Secara tiba-tiba Tuhan mengubah topik awal yang akan dikotbahkan hari ini. Pdt. Petrus Agung mendapat sebuah penglihatan yang sangat unik. Ada 3 kain dibentangkan dihadapannya. Yang pertama sebuah kain warna biru yang gelap dan sangat indah, yang tengah kain berwarna merah muda (pink) dan yang ke-3 kain berwarna hijau cerah. Di atas masing-masing kain ada seekor binatang. Seekor lembu hutan di atas kain biru, seekor kuda perang di atas kain merah muda dan seekor singa di atas kain hijau. Dikatakan bahwa sifat, karakter dan kelemahan ketiganya menjadi syarat bagi kita semua untuk menikmati masa Salomo yang Tuhan berikan kepada kita.

Lembu Hutan Yang Garang

Mengenai binatang yang pertama, Lembu Hutan, demikianlah pembahasannya:
  • "Apakah lembu hutan mau takluk kepadamu, atau bermalam dekat palunganmu?" - Lembu adalah binatang yang sangat kuat, dan di dalam dirinya ada potensi yang sangat besar untuk menjadi begitu besar. Namun lembu tersebut hanya berguna jika kegarangannya tertaklukkan (terjinakkan). Sebab jika kegarangan atau keliaran lembu hutan tidak dapat ditaklukkan, maka lembu tersebut hanya menjadi beban bagi tuannya. Demikian pula kita yang memiliki begitu besar benih & potensi dalam diri kita, namun semua itu hanya akan berguna jika kita rela dibentuk oleh Tuhan kita. 
  • "Dapatkah engkau memaksa lembu hutan mengikuti alur bajak dengan keluan, atau apakah ia akan menyisir tanah lembah mengikuti engkau?" - Puncak masa keemasan Salomo hanya tercapai bila kita mengikuti alur dan skenario Tuhan secara total. Kegarangan & keliaran yang masih belum tertaklukkan bukan saja menyulitkan kita untuk mencapai ke puncak, namun bahkan dapat mencelakakan diri kita. Potensi dan peluang besar hanya dapat dicapai dengan mengikuti rencana-Nya selangkah demi selangkah dalam ketaatan dan kesetiaan. 
  • "Percayakah engkau kepadanya, karena kekuatannya sangat besar? Atau kauserahkankah kepadanya pekerjaanmu yang berat? Apakah engkau menaruh kepercayaan kepadanya, bahwa ia akan membawa pulang hasil tanahmu, dan mengumpulkannya di tempat pengirikanmu?" - Dengan segala potensi untuk menjadi besar yang ada di dalam diri kita, dan segala pintu peluang yang telah dibukakan bagi kita, dapatkah Tuhan benar-benar bisa mempercayakan tanggung jawab besar kepada kita? Ada begitu banyak pekerjaan berat menanti untuk membawa bangsa ini bukan saja kepada puncak kejayaan dan keemasan, namun paling tidak 70% menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Raja. Sungguhkah kita dapat dipercaya oleh-Nya? Bahkan ketika kita berhasil limpah, hati kita tidak menjadi kurang setia.

Kuda Perang

"Engkaukah yang memberi tenaga kepada kuda? Engkaukah yang mengenakan surai pada tengkuknya? Engkaukah yang membuat dia melompat seperti belalang? Ringkiknya yang dahsyat mengerikan. Ia menggaruk tanah lembah dengan gembira, dengan kekuatan ia maju menghadapi senjata. Kedahsyatan ditertawakannya, ia tidak pernah kecut hati, dan ia pantang mundur menghadapi pedang. Di atas dia tabung panah gemerencing, tombak dan lembing gemerlapan; dengan garang dan galak dilulurnya tanah, dan ia meronta-ronta kalau kedengaran bunyi sangkakala; ia meringkik setiap kali sangkakala ditiup; dan dari jauh sudah diciumnya perang, gertak para panglima dan pekik." 
 
Awal dari sebuah puncak kesuksesan adalah mengerti benar apa panggilan hidup masing-masing kita. Kita sadari bahwa kitalah generasi penuntas yang menuntaskan semua pekerjaan yang Tuhan berikan. Dan kitalah generasi penggenap yang menggenapi semua janji Tuhan sampai kesudahan segala sesuatu. Dan berdasarkan panggilan kita itulah maka apapun resiko yang harus kita hadapi kita tidak akan pernah berhenti apalagi menyerah walau situasi sesulit apapun. Kita bertindak sebagai tentara-Nya yang bahkan dalam kedahsyatan pun kita makin bergelora, bukan menjadi kecut apalagi tawar hati. Namanya kuda perang, dan ketika perang datang pasti kita akan menyambutnya sesuai dengan panggilan kita masing-masing.


Blessed To Bless... 

Jurnal SHRK April 2011 - Hari ke-1


Bahan Renungan: Matius 11:2-3; Ester 4:13-14

Saudara-saudari kekasih dalam Tuhan Yesus Kristus,
Kali ini Tuhan hendak merapatkan barisan tentara-Nya supaya kita semua siap dalam anugerah-Nya untuk menuntaskan agenda demi agenda-Nya. Karena sesungguhnya kita benar-benar akan memasuki zaman yang berbeda. Sebuah zaman yang penuh dengan tindakan supranatural. Zaman yang bukan saja diimpikan oleh Tuhan, namun juga semua makhluk.

Kita tentu pernah bahkan berkali-kali mendengar kisah ketika Yohanes Pembaptis dalam kekecewaan dan keraguannya yang terbesar mempertanyakan ke-mesias-an Yesus Kristus, "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?" Kini coba renungkan pertanyaan tersebut dan bayangkan jika Tuhan yang berbalik tanya kepada kita, "Kamukah yang Kunantikan itu, atau Aku harus menantikan orang lain?"

Sungguh ini sebuah teguran super keras. Pertanyaan Tuhan ini seharusnya membuat kita sadar bahwa keberadaan kita saat ini bukanlah tanpa maksud dan tujuan. Segala sesuatu yang terjadi pada dan dari hidup kita BUKAN kebetulan. Tuhan memiliki bukan sekedar rencana, melainkan juga agenda yang terjadwal. Ini bukan waktunya untuk santai atau memprioritaskan cita-cita kita. Agenda kali ini adalah untuk menuntaskan semua pekerjaan-Nya dan menggenapi semua janji-Nya.

Keberadaan Ester Untuk Tujuan Adikodrati

Baca dan renungkan kembali kisah Ratu Ester. Seorang anak yatim piatu, orang buangan, berparas cantik, diangkat dan memperoleh segala kebaikan Tuhan hingga menjadi seorang ratu dari sebuah kerajaan yang paling berkuasa di dunia saat itu. Dan ketika seluruh kaum sebangsanya terancam keberadaannya, Ratu Ester diminta oleh pamannya untuk segera bertindak melalui kedudukannya sebagai ratu.

Dan sebagai respon awal dari Ratu Ester adalah takut dibunuh karena ancaman protokoler istana pada saat itu. Mordekhai langsung menjawab dengan keras, "Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu."

Dengan kata lain Mordekhai hendak menyadakan Ratu Ester, "Jangan kira, engkau diam di dalam istana dengan semua apa yang ada padamu saat ini, engkau akan selamat dengan berdiam diri. Tuhan mengangkatmu dari seorang buangan menjadi seorang ratu tentu bukan tanpa maksud. Inilah saatnya bagimu bertindak, atau Tuhan harus mencari orang lain menggantikanmu, seperti Dia mencari engkau menggantikan Ratu Wasti."

Sadarkah kita bahwa jauh sebelum adanya Ratu Ester, Tuhan dengan terpaksa berkali-kali menggantikan "orang pertama" dengan "orang kedua". Kain anak Adam dan Hawa digantikan oleh Set. Esau pada akhirnya digantikan Yakub. Daud pun ditetapkan Tuhan menggantikan Saul. Dan setelah zaman Ratu Ester pun hal tersebut masih berlanjut. Kita ketahui bagaimana kasih karunia Tuhan dinikmati orang-orang non Yahudi menggantikan orang-orang Yahudi. Yohanes Pembaptis menggantikan Imam Kayafas. Dan seterusnya, Tuhan selalu memiliki "orang kedua" untuk menggeser kita jika kita didapati tidak setia.

Melalui pesan ini juga, Tuhan hendak menyampaikan bahwa kita semua harus bekerja lebih giat dan lebih serius lagi mencari kehendak-Nya. Sadarilah bahwa keberadaan kita saat ini bukan tanpa tujuan, melainkan ada rencana dan agenda-Nya yang sempurna. Dan jika kita tidak lagi seirama dengan ritme-Nya, selalu ada "orang kedua" yang akan menggeser kita.

Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.
Lukas 14:23 
 
 
 
Blessed To Bless... 

Hidup - Pdt. Petrus Agung JKI


Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: “Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali”. Maka mulailah mereka bersukaria ( Lukas 15 : 22 – 24 )
Poin dari bapak ini berkata: “Anakku hidup”. Banyak yang berkata: “Pak, saya ini kan juga hidup”, belum tentu, “lho saya kan melakukan banyak kegiatan”, bukan itu yang Tuhan lihat, tetapi antara hatimu dengan hati Tuhan itu connect atau tidak, itu yang menentukan ada “kehidupan” tidak di dalam kita. Yang membuat bapak suka adalah “anakku hidup”, sedangkan sulung itu mati, keinginan si sulung hanya anak kambing untuk bersukacita dengan sahabatnya. Dia tidak pernah menyatakan keinginannya: “Aku mau tinggal bersama-sama ayah”, tetapi kerjanya keras luar biasa. Saya melihat banyak orang yang beraktivitas banyak tetapi kehilangan passion dari hidupnya. Anda boleh bekerja keras buat Tuhan, anda boleh mengerjakan banyak hal dalam gereja, tetapi bukan itu yang menarik hati Tuhan.

Sebenarnya dengan Tuhan itu bukan soal aktivitas, bukan soal prosedurnya, tetapi soal hubungan. Kerinduan hati Tuhan itu hanya ingin fellowship, ingin mendapatkan kehangatan supaya kita juga mendapatkan kehangatanNya. Kerinduan kita??


By HIS Grace,
Pdt. Petrus Agung Purnomo


Blessed To Bless...

Download Gratis Alkitab Elektronik Lengkap - (untuk berbagai macam versi dan handphone)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Holy Spirit