Saturday, April 9, 2011

THE KINGDOM OF GOD [part 1]


Sebagai orang-orang percaya, Tuhan menghendaki agar kita semua bisa memasuki rencana-Nya dan mewujudkan isi hati-Nya di atas muka bumi ini. Setiap kita memang memiliki kehidupan dan prioritas yang berbeda-beda, tapi ketika kita mulai menyatu dalam corporate destiny di sebuah gereja lokal dan kita mengambil keputusan untuk memprioritaskan rencana Tuhan sebagai prioritas terpenting dalam hidup kita, ketika itulah corporate authority akan mulai tercipta. Setelah corporate authority tercipta, barulah kita bisa berkata “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu.” 



Apa sebetulnya yang dimaksud dengan Kerajaan Allah? Kerajaan Allah adalah sebuah wilayah teritorial ilahi, tempat di mana Tuhan berkuasa dan memerintah. Sebagai contoh: ketika kita berbicara mengenai Kerajaan Inggris, pada awal tahun 1800-an, Kerajaan Inggris bukan hanya ada di Eropa tetapi meliputi seluruh dunia yang saat itu menjadi wilayah teritorial Inggris. Bedanya, teritorial Kerajaan Inggris adalah teritorial secara lahiriah, sementara teritorial Kerajaan Allah adalah teritorial ilahi dan meliputi seluruh alam semesta, termasuk juga dimensi rohani tempat di mana Tuhan berdiam, yang kita sebut sebagai ‘sorga’.

TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai” (Maz. 24:1-2)

Sebab TUHANlah yang empunya kerajaan, Dialah yang memerintah atas bangsa-bangsa” (Maz. 22:29)

Sesungguhnya Tuhan bukan hanya memerintah di sorga tetapi juga atas seluruh alam semesta, dan sebagai pencipta alam semesta, Ia memiliki kerinduan agar anak-anak-Nya juga dapat berkuasa dan memerintah atas seluruh bumi (Kej. 1:26) – inilah pola awal yang Tuhan miliki ketika Ia berbicara tentang memerintah dan berkuasa (baca juga Maz. 8:2-10).

Ketika kita menghampiri Dia dan memanggil Dia “Tuhan”, sebetulnya kita tidak layak untuk meminta apapun juga, karena sebagai Tuhan Dia hanya layak untuk disembah. Akan tetapi Dia tidak menghendaki kita mengenal Dia hanya pada keberadaan-Nya sebagai Tuhan; Dia juga memperkenalkan diri-Nya sebagai “Bapa”. Ketika Dia menyebut-Nya diri sebagai Bapa, artinya ada orang-orang yang juga Dia sebut sebagai “anak”, dengan tujuan agar si anak dapat mewarisi otoritas yang sama seperti yang Bapa miliki.

Ketika Tuhan menciptakan manusia dan menaruh mereka di Taman Eden, ada satu perintah yang Ia berikan yaitu agar manusia memultiplikasikan dirinya dan menaklukkan setiap area kehidupan yang ada, sampai terjadi perubahan dan pemulihan di segala aspek (Kej. 1:28). Namun untuk itu ada sebuah syarat yang Ia berikan kepada manusia (Kej. 2:16-17), bahwa sebagai anak, kita akan bisa memerintah dan menguasai bumi selama kita terus belajar hidup dalam ketergantungan penuh kepada Dia.

Akan tetapi manusia lebih memilih untuk hidup independen dan tidak lagi bergantung kepada Allah (Kej. 3:1-5), sehingga secara ‘resmi’ iblis berhasil mengambil alih kekuasaan atas bumi ini (1 Yoh. 5:19; Luk. 4:5-6). Artinya, ada satu teritorial yang awalnya Tuhan miliki hilang dari tangan-Nya; bukan disebabkan karena keteledoran-Nya sebagai penguasa tetapi karena ketidaktaatan manusia yang selama ini Ia percayai untuk memerintah dan berkuasa atas bumi.

Tetapi Puji Tuhan, karena dari sejak awal ketika Tuhan melihat otoritas atas bumi diambil oleh si Jahat, Tuhan langsung membuat rencana strategis untuk secara legal mengambil alih kembali otoritas atas bumi ini: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kej. 3:14-15). Kata keturunannya di sini mengacu kepada seorang anak laki-laki.

Itu sebabnya ketika Hawa mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Kain, Hawa berkata, “Aku telah mendapatkan seorang anak laki-laki oleh pertolongan Tuhan” (Kej. 4:1). Dengan kata lain Hawa berpikir bahwa inilah anak laki-laki yang Tuhan janjikan, yang akan mengembalikan otoritas atas muka bumi ke tangan manusia; akan tetapi bukan itu “keturunan” yang Tuhan janjikan. Jika kita membaca ayat berikutnya, kita akan melihat bahwa Iblis bahkan berhasil membujuk Kain untuk menjadi seseorang yang mendengki dan bahkan membunuh saudaranya sendiri, karena Iblis dapat memberikan kuasa dan kemuliaan kepada siapa saja yang ia kehendaki dan yang menaati dia (Luk. 4:6).

Apa yang iblis lakukan ini adalah menjiplak apa yang menjadi rencana Tuhan untuk kemudian ia putar balikkan – ia mengambil alih kekuasaan atas bumi ini dari tangan manusia dan memberikannya kepada siapa saja yang mau membuat kekacauan di bumi ini (Kej. 4:6-7; 6:1-4). Siapa kaum raksasa yang dimaksud dalam Kej. 6 ini? Jika kita mempelajari sejarah dari rencana yang iblis miliki, ketika iblis mengetahui apa yang menjadi rencana Tuhan yaitu melahirkan seorang anak laki-laki yang akan kembali memulihkan otoritas manusia yang sudah hilang, ia berusaha untuk mengacaukan peradaban manusia; ia membuat setiap wanita yang seharusnya melahirkan seorang anak tidak bisa melahirkan anak sebagai garis keturunan ilahi.

Itu sebabnya hampir dalam setiap kasus pelecehan seksual, yang dijadikan objek pelecehan itu seringkali adalah kaum wanita, karena dari merekalah akan lahir benih “sang pembebas”. Begitu pula kadangkala kita mendapati kaum prialah yang dirusak oleh iblis, karena iblis tidak tahu siapa di antara kaum pria itu yang nantinya akan mengembalikan otoritas atas bumi ini kepada manusia. Karena itu ras manusia dikacau dan lahirlah para raksasa (Kej 6:1-4).

Kisah-kisah selanjutnya menceritakan bagaimana setiap bayi laki-laki yang dianggap istimewa langsung dijadikan incaran oleh iblis. Sebagai contoh: ketika Musa lahir, Firaun bangkit; ketika Yesus lahir, bangkitlah Herodes untuk membinasakan bayi laki-laki yang ada.

Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan.  Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota.  Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya.  Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya” (Why. 12:1-5)

Jika kita membaca perikop di atas, yang dimaksud dengan ‘perempuan’ dalam ayat itu bukanlah Hawa tetapi Gereja Tuhan (ayat 3 – Gereja yang dibangun di atas dasar kesempurnaan korban Kristus dan diselimuti oleh kemuliaan Bapa di sorga, yang memiliki posisi rohani yang berkemenangan dan memiliki otoritas untuk memerintah di dalam roh). Ketika Gereja Tuhan melahirkan ‘seorang anak laki-laki’, itulah dia yang Tuhan nubuatkan dalam Kejadian 3. Itu sebabnya kita memiliki peranan yang sangat penting untuk mengembalikan otoritas pemerintahan atas dunia ini ke dalam tangan manusia.
Jika kita mempelajari sejarah perjalanan iman para hamba Tuhan, kita akan mendapati bahwa Tuhan membangkitkan Abraham untuk membangun sebuah garis keturunan yang baru. Lalu kemudian Tuhan membangkitkan Musa untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan dan penindasan Mesir. Itu semua adalah gambaran atau “uji coba” yang Tuhan lakukan untuk pada akhirnya melalui Yesus – sang Anak yang diutus ke dunia dan selalu berjalan dalam ketaatan pada kehendak Bapa, bahkan taat sampai mati – iblis tidak memiliki pilihan lain selain mengembalikan otoritas bumi ke tangan manusia yang sudah berjalan dalam ketaatan.
Itu sebabnya dalam Filipi 2:5-11 Alkitab berkata bahwa Allah sangat meninggikan Dia. Perhatikan ayat 5, Paulus berbicara kepada jemaat: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama...”. Kata “kamu” di sini bukan semua manusia atau semua orang percaya, melainkan orang-orang yang sudah lahir baru dan yang telah mewarisi DNA Kristus, untuk menaruh pikiran dan perasaan yang juga terdapat di dalam Kristus Yesus.

Ketika Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh tentara Amerika pada tahun 1945, seketika itu juga Jepang menyerah tanpa syarat. Masalahnya, tentara-tentara Jepang di Indonesia yang belum mendengar tentang berita kekalahan Jepang bertindak seakan-akan mereka masih berkuasa, demikian pula masih ada daerah-daerah dan orang-orang di Indonesia yang masih tetap tunduk kepada tentara Jepang. Sampai suatu kali ketika mereka mendengar dari radio bahwa Kekaisaran Jepang menyatakan diri takluk kepada Sekutu, seketika itu juga mereka bangkit untuk melawan karena mereka tahu bahwa Jepang sudah kalah.

Hal yang sama sudah terjadi 2000 tahun yang lalu; ketika Yesus menang atas maut, Ia kembali memerintah dan segala kekuasaan dan otoritas atas dunia sudah dikembalikan lagi ke tangan manusia. Masalahnya, masih banyak teritorial-teritorial yang belum mendengar kabar baik tersebut – mereka masih dikendalikan di bawah kekuasaan si Jahat.

Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 28:18-20).

Itu sebabnya Yesus memberikan kita perintah untuk ”pergi” menjangkau berbagai belahan ‘dunia’ – dunia pendidikan, dunia politik, dunia bisnis, dan dunia-dunia lainnya – yang masih belum mengetahui bahwa otoritas sudah Tuhan kembalikan ke tangan manusia lewat sang Anak. Dengan kata lain, Yesus memerintahkan kita untuk memultiplikasikan diri kita, memasuki setiap area kehidupan dan melakukan perubahan, dan memastikan terjadi perubahan nature sehingga terjadi pemulihan dalam segala aspek kehidupan.

Artinya, kita bukan hanya ditetapkan untuk menjadi ‘pangeran Allah’ tetapi Tuhan juga menunjuk kita sebagai ‘duta besar’ Kerajaan Sorga. Seorang duta besar hanya tunduk kepada hukum dari negara yang mengutusnya dan memiliki kekebalan terhadap hukum dari negara tempat ia diutus. Demikian pula kita, sebagai duta besar Kerajaan Sorga, kita tidak perlu lagi hidup menurut hukum dunia ini. 

Oleh karena itu kitab Ibrani berkata bahwa Tuhan membawa kita untuk hidup dalam Kerajaan yang tak tergoncangkan. Sementara hukum dunia ini terus mengalami perubahan dan kegoncangan, sebagai duta besar Kerajaan Sorga, kita hidup dalam hukum yang berbeda. Ketika kita sebagai orang-orang benar tinggal di dalam negeri, ada harapan bagi negeri untuk alami perubahan.
 



Blessed To Bless...

Roh Kudus




I. PENDAHULUAN

Dalam sejarah kekristenan setidaknya pernah ada dua kesalahan besar yang terjadi seputar pemahaman tentang tentang Roh Kudus. Kesalahan yang pertama dari kelompok yang yang kurang memberikan perhatian kepada Roh Kudus. Mereka ini menganggap Roh Kudus hanyalah kuasa, suatu sifat ilahi yang tidak berpribadi – Ia bukan oknum Allah. Sedangkan kesalahan yang kedua dari kelompok yang berlebihan mengajarkan tentang Roh Kudus sehingga segala sesuatu dihubungkan dengan Roh Kudus. Kesalahan ini tidak hanya terjadi pada masa lalu, tetapi saat ini juga tidak sedikit orang Kristen yang melakkan kesalahan yang sama.

Kedua pengajaran ini merupakan pengajara yang tidak seimbang. Karena itu di sini akan dipaparkan tentang pengajaran Roh Kudus sebagaimana yang tertulis di dalam Alkitab.

II. SIAPA ROH KUDUS

Untuk mendapatkan informasi yang akurat dan benar tentang Roh Kudus tidak dapat diperoleh dari literatur agama, pernyataan ahli teologi atau dari tempat yang lain karena semuanya itu bisa saja salah. Hanyalah Alkitab yang bisa menjadi satu-satunya sumber terpercaya tentang Roh Kudus karena Roh Kudus sendirilah yang menginspirasi penulisan Alkitab dan tentunya Roh Kudus sudah menyingkapkan dalam buku itu tentang siapa Diri-Nya yang sebenarnya.

Dari Alkitab kita memperoleh suatu kenyataan bahwa Roh Kudus adalah Pribadi bukan kuasa sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang. Adapun catatan Alkitab yang membuktikan kepribadian Roh Kudus, yaitu Ia mempunyai pikiran, emosi dan kemauan. Hanyalah sesuatu yang berkepribadian yang memiliki tiga hal ini. Sebagai tambahan, beberapa bukti lain tentang kepribadian Roh Kudus,
yaitu Ia berkata-kata (Wah 2:7), Ia memimpin (Kis 8:29) dan Ia memimbing (Yoh 16:13).

Lebih dari hanya satu pribadi, Roh Kudus ini adalah pribadi yang tidak sama dengan makhluk jasmani. Dari namanya sudah terlihat bahwa pribadi ini merupakan pribadi rohani. Dan lebih khusus lagi pribadi rohani ini adalah Allah itu sendiri. Dari Alkitab bisa diperoleh banyak catatan yang menunjukkan keilahian Roh Kudus, diantaranya yaitu Ia kekal (Ibr 9:14), Ia Mahakuasa (Luk 1:35), Ia Mahatahu (1 Kor 2:10-11) dan Ia Pencipta (Kej 1:2). Hanyalah Allah yang memiliki sifat-sifat seperti ini.

Siapa Roh Kudus? Bila pertanyaan ini diajukan kepada jemaat, kita bisa menjawabnya dengan penuh keyakinan berdasarkan kesaksian Alkitab bahwa Roh Kudus adalah Allah. Ia sama seperti dengan Allah Bapa dan Allah Anak yang terhisap dalam ketritunggalan yang kudus. Ketiganya sehakekat, tidak ada yang lebih rendah atau yang lebih tinggi dari yang lain.

III. PEKERJAAN ROH KUDUS

Dari Alkitab kita bisa memperoleh informasi bahwa sepanjang sejarah Roh Kudus aktif berkarya ditengah-tengah dunia ini. Roh Kudus bekerja dalam tiga bagian utama sejarah dunia, yaitu pertama dari masa penciptaan sampai masa kelahiran Kristus, kedua dari masa kelahiran Kristus sampai masa pentakosta dan ketiga dari masa pentakosta sampai masa sekarang.

Pekerjaan Roh Kudus pada bagian pertama, yaitu Ia terlibat dalam proses penciptaan. Menurut Kej 1:2 saat penciptaan berlangsung Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Dalam bahasa Ibrani kata melayang-layang ini juga berarti ‘mengerami’. Sama seperti induk ayam mengerami telor-telornyanya dengan tujuan agar menetas dan menghasilkan kehidupan, demikianlah Roh Kudus mengerami ciptaan dengan tujuan supaya ada kehidupan yang baru. Disamping itu Roh Kudus juga bekerja dengan menguasai umat-Nya untuk melakukan misi-misi

tertentu contohnya ketika mengilhami para nabi (Yer 31:33) dan memberikan keahlian (Kel 31:3).
Lalu pekerjaan Roh Kudus pada bagian kedua berpusat pada pribadi Kristus dan jemaat mula-mula. Ketika Kristus berinkarnasi ke dalam dunia Roh Kudus yang turun atas Maria (Luk 1:37), sepanjang pelayanan Kristus, Roh Kudus senantiasa menyeratai-Nya (Luk 4:18), dan ketika Kristus mati Ia dibangkitkan pada hari ketiga oleh Roh Kudus (Rom 8:11). Sedangkan pekerjaan Roh Kudus diantara jemaat mula-mula jelas sekali buahnya Ia memenuhi murid-murid sehingga mereka mampu melakukan banyak perkara besar (Kis 2:4).

Dan pekerjaan Roh Kudus pada bagian ketiga, yaitu tinggal di tengah-tengah umat-Nya (Kis 2:33), menginsafi dunia akan dosa (Yoh 16:7-11), mengendalikan kejahatan (2 Tes 2:7) dan memimpin gereja-Nya (1 Kor 12:13-14).

Itulah beberapa bagian pekerjaan Roh Kudus di dunia ini. Dan sebagaimana tercatat dalam Rom 8:28 semua pekerjaan itu bermuara pada kita untuk mendatangkan kebaikan kita orang yang mengasihi-Nya. Sebagai catatan, kalau yang dijelaskan di sini hanya pekerjaan Roh Kudus sepanjang sejarah dunia bukan berarti pekerjaan Roh Kudus terbatas dalam ruang lingkup itu saja. Tidak! Kalau kita meyakini Roh Kudus adalah Allah yang kekal (Ibr 9:14) maka Ia sudah aktif berkarya jauh sebelum dunia ini ada dan akan terus aktif berkarya ketika dunia ini berlalu nanti.

IV. EKSISTENSI ROH KUDUS DALAM GEREJA

Saat ini oleh karena kekurangan informasi atau kurang memperlajari isi Alkitab sebagian orang Kristen terlalu cepat mengeluarkan pernyatan-pernyataan yang tidak masuk akal. Salah satu dari pernyataan itu, yaitu tentang ada atau tidak adanya Roh Kudus dalam gereja tertentu. Ini merupakan kekeliruan karena mendasarkan keyakinan tentang ada atau tidak adanya Roh Kudus dalam gereja berdasarkan pada manifestasi atau fenomena tertentu, misalnya berbahasa lidah. Jika di dalam

Jika di dalam gereja ada karunia bahasa lidah maka di situ ada Roh Kudus sebaliknya jika tidak ada karunia demikian maka di situ tidak ada Roh kudus.

Keberadaan Roh Kudus dalam gereja tidak dapat didasarkan pada konsep yang dibuat manusia seperti di atas tetapi berdasarkan apa kata Alkitab. Beberapa catatan Alkitab tentang hubungan Roh Kudus dengan gereja, yaitu pertama Roh Kuduslah yang menjadikan gereja-Nya (1 Kor 12:13-14). Kedua, oleh Roh Kudus, Allah hadir di dalam gereja(Ef 2:22). Dan yang ketiga, Roh Kudus memberikan karunia-karunia rohani kepada jemaat untuk maksud pembangunan tubuh Kristus (gereja).

Dengan semua informasi dari Alkitab ini bisa diketahui bahwa Roh Kudus ada tinggal tetap dalam gereja-Nya. Tidak ada gereja yang tidak ada Roh Kudus di dalamnya. Yang membedakan gereja satu dengan yang lain barangkali karya Roh Kudus di dalam gereja tersebut tetapi mengenai oknum Roh yang ada dalam semua gereja tetap sama, yaitu Roh Allah yang Kudus. Sebagai tambahan: Setiap gereja yang mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan di dalamnya pasti ada Roh Kudus karena antara Yesus dengan Roh Kudus yang terhisap dalam ketritunggalan kudus tidak mungkin diceraikan. Dimana ada Yesus pasti di situ ada Roh Kudus dan begitu sebaliknya.

V. PENUTUP

Akhirnya biarlah kita sebagai orang yang percaya kepada Kristus meyakini bahwa Roh kudus merupakan pribadi Allah. Dan Ia aktif berkarya sejak awal dunia sampai sekarang ini. Selain itu Roh Kudus juga ada hadir dalam gereja. 
 
 
 
Blessed To Bless...

MENGENALI JENIS-JENIS PELAYANAN DARI TUHAN

   
  Segala sesuatu yang ada di dunia ini ada musim atau masanya. Contohnya, pada bulan Agustus-September, kita memasuki peralihan dari musim panas ke musim hujan – itu adalah target yang sebetulnya sudah ditetapkan oleh hukum alam. Contoh lainnya adalah ketika bulan Desember tiba, kita juga tahu bahwa musim durian segera datang. Meskipun teknologi pertanian masa kini bisa membuat beberapa pohon tertentu seakan-akan bisa terus dipanen setiap bulan, namun secara hukum alam, ada musim-musim tertentu yang pasti akan selalu kita lihat terjadi.

Demikian pula Tuhan sudah menetapkan target-target rohani untuk setiap orang percaya – ada target-target tertentu yang harus kita capai dalam hidup kita. Ketika kita memasuki target yang Tuhan tetapkan tersebut, ketika itulah kehidupan kita akan mulai bisa memanifestasikan kemuliaan Tuhan, sesuai dengan level anugerah yang kita capai pada target yang Tuhan tetapkan tersebut.
Selama ini, ada cukup banyak orang percaya yang belum mengetahui kebenaran ini, dan kalaupun mereka sudah mengetahuinya, masalah, konflik batin, dan berbagai hal lainnya telah berhasil menahan mereka untuk memasuki target yang Tuhan sudah tetapkan atas hidup dan pelayanan mereka. Akan tetapi hari ini saya deklarasikan, “Tuhan sedang mencurahkan roh percepatan ilahi atas setiap kita, sehingga kalaupun ada di antara Anda yang merasa masih berada di bawah target yang Tuhan tetapkan, engkau akan alami adanya percepatan ilahi dalam hidupmu – Roh Kudus akan bekerja sedemikian rupa dalam hidupmu sehingga engkau bisa mencapai target yang Tuhan tetapkan. Roh terobosan ilahi telah Dia curahkan, dan apapun yang selama ini menghalangi dan menghambatumu akan mulai Dia terobos dan hancurkan. Selama engkau mau bekerja sama dengan Dia, engkau akan terus alami percepatan ilahi datang.”

Jika Anda bertanya, apa yang sebenarnya menjadi target Tuhan bagi Gereja-Nya, jawabannya adalah: Tuhan telah menetapkan bahwa pada bulan-bulan ini, semua kita akan mulai memasuki pelayanan kita yang sejati, dan kita akan mendapati Tuhan telah menyediakan ladang pelayanan kita masing-masing, sehingga tidak ada satupun di antara kita yang masih akan didapati Tuhan menganggur secara rohani, karena semua kita telah ditetapkan Tuhan untuk ikut terlibat dalam pelayanan.

Dalam kitab Hakim-hakim, ada beberapa tokoh Alkitab yang dibawa oleh Tuhan untuk masuk dalam pelayanan. Jika kita mempelajari kondisi bangsa Israel pada jaman kitab Hakim-hakim, pada waktu itu belum ada raja atau pemimpin yang memerintah Israel – yang ada hanyalah orang-orang yang dibangkitkan Tuhan untuk memimpin dan menjadi hakim di Israel. Biasanya, mereka dipakai Tuhan untuk memimpin orang Israel melewati segala tekanan dan pergumulan yang timbul sebagai akibat dari ketidaktaatan mereka. Selama hakim tersebut hidup, orang Israel akan terus berjalan dalam kebenaran, tetapi begitu si hakim mati, orang Israel akan kembali tercerai berai dan tidak lagi hidup dalam kebenaran, sampai Tuhan mengangkat hakim yang baru lagi.
Jangankan di kalangan non-Kristen, bahkan di kalangan orang Kristen sekalipun ada banyak sekali mereka yang “terlantar” secara rohani; mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, mereka mengalami kekeringan/kesuaman/kematian rohani, dan mereka membutuhkan orang-orang yang Tuhan bangkitkan untuk memimpin dan mempengaruhi hidup mereka untuk kembali berjalan dalam kebenaran, agar mereka juga bisa menikmati anugerah Tuhan yang sama dalam hidup mereka – seperti inilah kondisi yang kita dapati dalam kitab Hakim-hakim.
Dari sekian banyaknya tokoh Alkitab yang dicatat dalam kitab Hakim-hakim, ada beberapa yang sanga menarik untuk kita pelajari tentang cara Tuhan membawa mereka masuk ke dalam pelayanan mereka yang sejati, karena saya percaya bahwa dengan cara-cara yang sama juga Tuhan akan membawa kita memasuki pelayanan kita yang sesungguhnya.

Bagaimana kita bisa mengenali pekerjaan Roh dalam hidup kita?

1.      Melalui penunjukan yang dilakukan oleh seorang pemimpin.

“.. Pada waktu itu Debora, seorang nabiah, isteri Lapidot, memerintah sebagai hakim atas orang Israel. Ia biasa duduk di bawah pohon korma Debora antara Rama dan Betel di pegunungan Efraim, dan orang Israel menghadap dia untuk berhakim kepadanya. Ia menyuruh memanggil Barak bin Abinoam dari Kedesh di daerah Naftali, lalu berkata kepadanya: “Bukankah TUHAN, Allah Israel, memerintahkan demikian: Majulah, bergeraklah menuju gunung Tabor dengan membawa sepuluh ribu orang bani Naftali dan bani Zebulon bersama-sama dengan engkau, dan Aku akan menggerakkan Sisera, panglima tentara Yabin, dengan kereta-keretanya dan pasukan-pasukannya menuju engkau ke sungai Kison dan Aku akan menyerahkan dia ke dalam tanganmu” Jawab Barak kepada Debora: “Jika engkau turut maju aku pun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju aku pun tidak maju.” Kata Debora: “Baik, aku turut! Hanya, engkau tidak akan mendapat kehormatan dalam perjalanan yang engkau lakukan ini, sebab TUHAN akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan.” Lalu Debora bangun berdiri dan pergi bersama-sama dengan Barak ke Kedesh...” (Hakim-hakim 4:1-10).

Selama ini kita hanya mempelajari dan memperhatikan tentang Debora – seorang nabiah yang dipakai Tuhan dengan luar biasa, tapi kita hampir tidak pernah berbicara tentang Barak. Padahal, dalam Ibrani 11:30-33, nama Debora bahkan tidak tercatat di sana – yang tertulis adalam nama Barak. [Untuk saat ini kita belum akan membahas alasan mengapa bukan Debora yang disebutkan di Ibrani 11.] Akan tetapi,  kita perlu memperhatikan bahwa Barak bisa mulai memasuki pelayanannya oleh karena penunjukan seorang pemimpin, yaitu Debora. Pada saat itu, Deboralah yang menjadi pemimpin di Israel.
Hal yang sama akan kita alami – Tuhan akan membawa kita masuk ke dalam area-area pelayanan kita karena penunjukan seorang pemimpin. Tapi dalam kasus Barak, Debora terpaksa harus berkata kepada Barak bahwa Barak tidak akan mendapatkan kehormatan daari kemenangan yang mereka raih. Mengapa demikian? Karena dalam ayat 8 kita mendapati bahwa Barak mengemukakan berbagai alasan dan syarat kepada Debora sebagai pemimpin, “Jawab Barak kepada Debora: “Jika engkau turut maju aku pun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju aku pun tidak maju.”. Seringkali, Tuhan akan mulai memakai pemimpin yang ada di atas kita untuk membawa kita masuk ke dalam sebuah pelayanan. Ketika sang pemimpin mulai mengenali potensi atau skill yang ada dalam hidup kita lalu kemudian pemimpin itu mulai melakukan penunjukan dan memberikan perintah, saya mendorong Anda untuk hanya berkata ‘YA’ dan kerjakan dengan sungguh-sungguh apa yang menjadi arahan dan perintah dari pemimpin tersebut.

Ketika engkau menerima penunjukan dari seorang pemimpin dan engkau mengajukan syarat dan alasan, maka kehormatan/kemuliaan yang seharusnya menyertaimu akan hilang. Karena itu pastikan, ketika Tuhan sungguh-sungguh ingin membawa Anda masuk ke dalam sebuah pelayanan melalui penunjukan seorang pemimpin, jangan pernah memberikan syarat apapun; lakukan apa yang menjadi bagianmu dengan ketulusan dan segenap hati, dan kemuliaan Tuhan akan terus menyertaimu. Sebaliknya, jika engkau mengemukakan berbagai macam alasan dan syarat, engkau akan kehilangan kemuliaan itu, karena sikap hati yang engkau miliki sudah keliru sejak awal.

Karena itu, pastikan engkau memiliki sikap hati yang benar – sikap hati yang tulus dan semata-mata karena engkau ingin menyukakan hati Tuhan; miliki hati yang terus haus dan lapar akan Tuhan, karena dari sanalah sumber pelayananmu akan mengalir. Pelayanan yang sejati bukan datang karena kita mampu atau bisa, tetapi karena Tuhan yang bekerja dalam hidup kita. Sikap hati yang benar akan membuat penyertaan Tuhan selalu nyata atas hidup yang pelayanan kita.

2.      Melalui arahan yang Tuhan beri atau dorongan Roh yang kita alami di dalam batin kita.

“Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian: “TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.” Jawab Gideon kepada-Nya: "Ah, tuanku, jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? Di manakah segala perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami, ketika mereka berkata: Bukankah TUHAN telah menuntun kita keluar dari Mesir? Tetapi sekarang TUHAN membuang kami dan menyerahkan kami ke dalam cengkeraman orang Midian” (Hakim-hakim 6:12-13).

Dari apa yang diucapkan oleh Gideon, kita bisa melihat bahwa dalam hati Gideon ada banyak sekali kerinduan dan benih-benih ilahi yang bekerja dalam hidupnya. Gideon terus teringat kepada bagaimana Tuhan memakai Musa untuk membebaskan orang Israel, Yosua untuk merobohkan tembok Yerikho dan merebut sebagian besar Kanaan. Tapi ketika Gideon melihat realita yang ada, muncul suatu sikap hati yang rindu agar hidupnya dipakai oleh Tuhan. Akibatnya, dorongan yang Gideon rasakan untuk dia melakukan sesuatu bisa dengan mudah dia responi. Kalaupun ada banyak hambatan dan halangan manusiawi yang dia hadapi – Gideon adalah anak yang paling kecil, dari keluarga yang terkecil dari sebuah kaum yang terkecil dari antara suku di Israel – tapi ketika Roh Kudus mulai menggerakkan Gideon dan Gideon meniup sangkakalanya (Hak. 7:1-2), 32.000 orang pun segera berkumpul untuk menyertai Gideon.
Seandainya kita bisa terus menjaga hati kita untuk selalu rindu dipakai oleh Tuhan, Roh Kudus akan mulai memberikan dorongan tentang apa yang seharusnya kita lakukan di dalam diri kita. Ketika kita belajar menaati setiap dorongan Roh, Tuhan akan terus membukakan pintu kesempatan untuk kita dapat menjadi berkati bagi orang lain.

Karena itu, belajarlah untuk selalu menaati setiap perintah dan arahan yang Tuhan beri – segentar dan setakut apapun engkau – sama seperti Gideon (Hak. 6:25-27), karena ketaatan kita akan membuat kita selalu melihat penyertaan dan pembelaan Tuhan dalam melakukan apa yang menjadi perintah dan arahan-Nya itu (ayat 28-30). Ingat, setiap langkah ketaatan pasti akan menciptakan perubahan! Ketaatan kita juga seringkali akan membuktikan bahwa ketakutan dan kekhawatiran yang kita miliki sebenarnya tidak beralasan, karena ketika Tuhan sudah berfirman, semua pertimbangan manusiawi yang paling akurat sekalipun menjadi salah; ketika Tuhan berfirman, situasi dan keadaan yang ada pasti akan berubah.
Satu langkah ketaatan sederhana akan menghantarkan kita kepada dampak yang lebih besar, sehingga pada akhirnya ketika ada langkah ketaatan yang sangat menentukan yang harus kita ambil, kita akan selalu bisa menaati apa yang menjadi arahan Tuhan dan dampak yang luar biasapun akan kita lihat terjadi karena ketaatan kita.

3.      Melalui kesempatan yang datang dari situasi dan keadaan yang ada.

“Kemudian bani Amon dikerahkan dan berkemah di Gilead, sedang orang Israel berkumpul dan berkemah di Mizpa. Maka para pemimpin bangsa di Gilead berkata seorang kepada yang lain: “Siapakah orang yang berani memulai peperangan melawan bani Amon itu? Dialah yang harus menjadi kepala atas seluruh penduduk Gilead”” (Hakim-hakim 10:17-18).
Pada waktu itu, seluruh orang Israel seakan-akan kehilangan keberanian mereka untuk menghadapi bani Amon. Sampai-sampai, para pemimpin yang ada memutuskan bahwa siapa yang berani melawan bani Amon – orang itu akan ditunjuk menjadi pemimpin di Israel.

Lalu dalam Hak. 11:1 Alkitab berkata,  “Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa...” – cocok dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Akan tetapi, Yefta memiliki latar belakang yang sangat buruk: ia adalah anak seorang perempuan sundal, diusir dari keluarganya, berkumpul dengan para perampok, dan bahkan menjadi pemimpin para perampok  (Hak. 11:1-3). Selama sekian waktu lamanya, Yefta mungkin menyesali pengalaman masa lalunya dan ia sulit melihat kebaikan Tuhan di dalam perjalanan hidupnya, sampai ketika para tua-tua Gilead datang kepada Yefta dan meminta Yefta untuk menjadi pemimpin atas mereka (Hak. 11:4-11). Saya percaya, pada saat itu juga Yefta bisa melihat bagaimana perjalanan hidupnya sudah ditetapkan oleh Tuhan, membentuk dan mempersiapkan Yefta untuk bisa dilepaskan pada waktunya.

Hal yang sama juga akan terjadi atas beberapa dari antara Anda. Mungkin saat ini Anda masih menyesali apa yang pernah Anda alami atau perbuat di masa lampau, tapi selama Anda terus meresponi segala hal yang Anda hadapi dengan roh pertobatan dan sikap hati yang selalu ingin menyukakan hati Tuhan, Tuhan pun akan memanfaatkan peristiwa-peristiwa yang pernah Anda alami di masa lalu untuk kebaikan Anda sendiri, untuk membentuk dan mempersiapkan Anda sehingga pada akhirnya memberi keuntungan untuk Anda sendiri.

Namun lepas dari semua itu, ada satu hal yang harus saya garis bawahi: semua peristiwa buruk yang Yefta alami di masa lalunya bukanlah akibat perbuatan atau kesalahan Yefta; Yefta bukan pelaku melainkan korban dari keadaan yang disebabkan oleh orangtua dan saudara-saudaranya. Dan karena Yefta selalu memiliki hati yang bersih dan tertuju kepada Tuhan dan rencana-Nya, maka lepas dari semua yang ia alami, itu semua menjadi semacam suatu proses pembentukan yang Yefta harus ikuti dan lalui. Ketika waktunya tiba, Tuhan justru memunculkan Yefta sebagai pemimpin di Israel.

Selama ini, beberapa dari Anda mungkin merasa seakan-akan apa yang engkau lakukan hanyalah hal-hal yang sepele dan sederhana, bahkan hal-hal yang mungkin kurang engkau sukai. Saya mendorong Anda untuk terus melakukannya dengan tekun dan setia, karena akan tiba waktunya Tuhan akan membukakan pintu kesempatan untuk Anda bertemu dengan “tua-tua Gilead”mu. Dan saat Anda bertemu dengan mereka, Anda sudah memiliki keahlian dan posisi rohani yang Anda butuhkan untuk bisa menghasilkan perubahan; pintu pelayananpun akan mulai terbuka lebar bagi Anda.

4.      Melalui peristiwa sehari-hari dan pengalaman hidup yang kita alami.

“Simson pergi ke Timna dan di situ ia melihat seorang gadis Filistin. Ia pulang dan memberitahukan kepada ayahnya dan ibunya: “Di Timna aku melihat seorang gadis Filistin. Tolong, ambillah dia menjadi isteriku.”  Tetapi ayahnya dan ibunya berkata kepadanya: “Tidak adakah di antara anak-anak perempuan sanak saudaramu atau di antara seluruh bangsa kita seorang perempuan, sehingga engkau pergi mengambil isteri dari orang Filistin, orang-orang yang tidak bersunat itu?” Tetapi jawab Simson kepada ayahnya: “Ambillah dia bagiku, sebab dia kusukai.” Tetapi ayahnya dan ibunya tidak tahu bahwa hal itu dari pada TUHAN asalnya: sebab memang Simson harus mencari gara-gara terhadap orang Filistin. Karena pada masa itu orang Filistin menguasai orang Israel” (Hakim-hakim 14:1-4).

Dari ayat-ayat di atas, Alkitab menceritakan bahwa meskipun Simson adalah seorang nazir Allah, Simson menjalani hidup seperti layaknya anak-anak muda lain di Israel. Sampai suatu waktu ketika ia ada di Timna, ia melihat seorang gadis Filistin dan hatinya tertambat kepada gadis itu, bahkan sampai meminta orangtuanya untuk mengambil gadis itu menjadi isterinya.

Akan tetapi, lepas dari semua itu, Alkitab juga menceritakan bahwa semua itu bisa terjadi oleh karena skenario tangan Tuhan, karena Simson memang harus mencari gara-gara dengan orang Filistin [pada waktu itu orang Filistin menguasai seluruh Israel]. Karena Tuhan sudah menyatakan bahwa lewat hidup Simson, akan dimulai penyelamatan atas Israel dari tangan orang Filistin (Hak. 13:5).

Dari cerita tentang Simson ini kita mendapati bahwa Simson memasuki pelayanannya melalui peristiwa hidup sehari-hari yang dia alami, yang tanpa ia sadari, justru Tuhan pakai untuk menggiring dia memenuhi panggilan hidupnya. Demikian pula, akan tiba sekali waktu di mana Anda juga akan mendapati bahwa peristiwa sehari-hari yang Anda alami justru akan menjadi sarana yang Tuhan pakai untuk membukakan pintu pelayanan bagi Anda.

Saya juga pernah mendengar beberapa hamba Tuhan yang dipakai Tuhan luar biasa untuk menangani dan melayani anak-anak yang menderita down syndrome atau keterbelakangan mental, dimulai ketika mereka pertama-tama memiliki seorang anak yang menderita penyakit yang sama. Mereka mendoakan dan melayani anak mereka, sambil belajar dari Tuhan, dan ketika mujizat mulai terjadi, dimulailah pelayanan itu untuk memberkati orang-orang lain.

Ada banyak hal yang Anda bisa alami bersama Tuhan, tapi pastikan Anda terus dengan-dengaran dengan Tuhan, terus bangun persekutuan Anda dengan Tuhan, dan ikuti setiap dorongan dan arahan yang Tuhan berikan kepada Anda. Situasi dan keadaan apapun yang sedang engkau alami, responilah secara ilahi, karena seringkali apa yang engkau alami adalah cara Tuhan untuk membawamu memasuki destinymu. Dengan demikian, apa yang engkau alami secara pribadi bersama Tuhan akan memberkati banyak orang yang lain.



Blessed To Bless...

Friday, April 8, 2011

Cara TUHAN


Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. ( Yohanes 4 : 49 - 50 )

Pegawai istana itu mengundang Yesus, tapi tanpa sadar dia sudah membatasi Tuhan. Dengan berkata ‘datanglah sebelum anakku mati’, artinya : TUHAN YESUS untuk menyembuhkan anak itu harus datang. Jika tidak datang, tidak akan ada kesembuhan. Yang kedua, harus datang sebelum anaknya mati. Artinya kalau sudah mati, berarti sudah terlambat dan tak bisa pulih lagi. Tetapi Tuhan Yesus berkata : “Pergilah, anakmu hidup’. Dengan itu Tuhan berkata: CARA-KU, dan bukan CARA-mu. TIDAK USAH AKU datang seperti yang kau pikirkan. AKU PUNYA CARA SENDIRI. Saudara yang kekasih, kadang saat kita berkata: DATANGLAH.. maka DIA menjawab: PERGILAH... Waktu kita MEMINTA, DIA akan menjawab : BERILAH. CARA-NYA memang beda.
 
 
Blessed To Bless...

Kerendahan Hati, Tangga Menuju Kemuliaan



Jika Anda pernah berkebun, maka Anda pasti pernah melihat tumpukan hitam kecoklatan yang ada di atas tanah yang kita sebut humus. Kata humus ini berasal dari bahasa latin tanpa ada perubahaan ejaan yang artinya “bumi.” Sesuai dengan asal usul kata tersebut, kerendahan hati (humility) artinya “diatas tanah”. Kerendahan hati sejati akan membuat Anda rela merendahkan diri dari posisi kesombongan ke posisi rebah di atas tanah sebagai bukti penundukan diri Anda kepada Allah yang berkuasa.

Untuk mendapatkan karakter ini, manusia harus menjalani sebuah proses pemurnian. Anda bisa memulai dari kerelaan hati, dan mulai melepaskan semua ego Anda dan mempersembahkannya di mesbah Tuhan, atau sebaliknya. Jika Anda mempertahankan ego Anda, maka proses menyakitkan dimana Anda akan diremukkan hingga Anda menyerah dan rebah di atas tanah serta mengakui kedaulatan Tuhan.

Anda dapat menjatuhkan diri ke atas mesbah Tuhan dan mengijinkan diri Anda untuk diremukkan, atau Anda tetap berdiri dan batu itu akan jatuh menimpa Anda dan menghancurkan kesombongan Anda. Keremukan hati merupakan sebuah proses menuju kerendahan hati ini. Mengapa? Dr. Alan Nelson pernah menuliskan dalam bukunya Embracing Brokenness, “Jiwa manusia itu seperti seekor kuda jantan liar dengan energi tanpa batas. Kadang-kadang itu mulia dan penuh kuasa, namun pada saat-saat yang lain menjadi keras dan berbahaya. Terlepas dari potensinya, jiwa yang liar memiliki kapasitas yang terbatas untuk maksud-maksud yang konstruktif. Seperti halnya kuda liar tidak dapat dinaiki untuk bersenang-senang atau digunakan untuk menggembalakan ternak, roh seseorang yang belum diremukkan terbatas hanya pada keindahan potensi produktivitasnya. Jiwa yang tidak remuk membatasi pekerjaan Allah dalam hidup seseorang.”

Yesus mengajarkan kita untuk berdoa “kerajaan-Mu datanglah,” bukan “kerajaan-ku datanglah.” Kita harus rela melakukan apa yang Allah kehendaki, karena kehidupan ini adalah tentang kerajaan-Nya, bukan kerajaan kita. Jika Anda datang kepada Allah dengan remuk hati dan merendahkan diri, Amsal 22:4 berkata, “Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.”

Hidup dalam kerendahan hati akan mendatangkan kepuasan yang sejati dan berkat yang luar biasa. Karena ketika kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan dan menemukan kembali tempat kita di dalam Kristus, kita diberi kesempatan untuk melihat Kerajaan Allah diperluas di bumi ini.

Disadur dari: Dibangunkan Terhadap Takdir; Terry Crist;Immanuel Publishing 


Blessed To Bless...

Tuesday, April 5, 2011

It’s Cool to Count on God




Few things in life are more difficult than being a teenager. From the age of twelve to eighteen, life resembles a rollercoaster. The highs are great, but the lows, well, the lows can be pretty lonely, can’t they?


As if growing up and figuring out who you are supposed to be isn’t enough of a challenge, society puts all this pressure on you to be cool. Look cool. Act cool. Make other people think you’re cool. And perhaps the most preposterous of them all: Believe that you are cool. Our culture does everything imaginable to eat away at your self-esteem, and then tells you that it’s your responsibility to feel good about yourselves. Tricky, isn’t it?


Many teenagers feel that Christianity isn’t cool. Depending on where you live, and the people you’ve been exposed to, maybe you’ve had negative experiences with Christianity. But a negative experience with organized religion is not the same as a negative experience with God. Religion might not be cool. But God is cool. Very cool.


You probably don’t think that rules are cool. (Who does?) Someone may have told you that if you want to be with God, you can’t drink, can’t think about the opposite sex, can’t swear, and have to get up early on Sundays.


God is much more than all that. God is not about rules. God is about freedom.


God is about helping you become who you are.


Here’s why God’s cool:

God is your best friend. At some point, you’ve probably had your heart broken by a friend. Has somebody betrayed you, talked about you behind your back, took something away just because they knew you wanted it? Probably. God will never do any of those things. God loves you and wants what’s best for you.

God will never leave you. Friends come and go. Relationships bloom suddenly and then vanish. But not God. He has been there for you since the beginning and will be there for you through eternity. Don’t you want someone to count on? God is that someone.

God is the only one who truly knows you. You’re changing so fast, you can barely keep up with yourself, right? You don’t even know who you are. Your parents certainly don’t seem to know. And your friends don’t seem to care who you really are. Well, the Bible tells us that God knew you before you were even conceived, that He has a plan for you, and that He knows how many hairs are on your head. God knows your thoughts before you even think them. Tired of feeling lost? Tired of feeling like nobody knows you? You should be tired! Feeling like that is exhausting! But you don’t have to feel like that. God knows exactly who you are, who you want to be, and who you can be.

God wants what’s best for you. While others may seem to be driving you crazy with demands about good grades, good behavior, good clothes, a good boyfriend or girlfriend, good music, God just cares about you.


In short, God is cool because He desires for you to be cool. Life is so much easier when you count on your best friend. So talk to Him. He’s always listening.

The Devil & The Duck



There was a little boy visiting his grandparents on their farm. He was given a slingshot to play with out in the woods. He practiced in the woods; but he could never hit the target. Getting a little discouraged, he headed back for dinner.

As he was walking back he saw Grandma's pet duck. Just out of impulse, he let the slingshot fly, hit the duck square in the head and killed it. He was shocked and grieved!

In a panic, he hid the dead duck in the wood pile; only to see his sister watching! Sally had seen it all, but she said nothing.

After lunch the next day Grandma said, 'Sally, let's wash the dishes'.

But Sally said, 'Grandma, Johnny told me he wanted to help in the kitchen.'

Then she whispered to him, "Remember the duck?'

So Johnny did the dishes.

Later that day, Grandpa asked if the children wanted to go fishing and Grandma said, 'I'm sorry but I need Sally to help make supper.'

Sally just smiled and said, 'well that's all right because Johnny told me he wanted to help?

She whispered again, 'Remember the duck?' So Sally went fishing and Johnny stayed to help.

After several days of Johnny doing both his chores and Sally's; he finally couldn't stand it any longer.

He came to Grandma and confessed that he had killed the duck.

Grandma knelt down, gave him a hug and said, 'Sweetheart, I know. You see, I was standing at the window and I saw the whole thing, but because I love you, I forgave you. I was just wondering how long you would let Sally make a slave of you.'


Thought for the day and every day thereafter:
Whatever is in your past, whatever you have done...? And the devil keeps throwing it up in your face (lying, cheating, debt, fear, bad habits, hatred, anger, bitterness, etc.)....whatever it is....You need to know that:
God was standing at the window and He saw the whole thing.

He has seen your whole life... He wants you to know that He loves you and that you are forgiven. He's just wondering how long you will let the devil make a slave of you.


The great thing about God is that when you ask for forgiveness;
He not only forgives you, but He forgets.
It is by God's grace and mercy that we are saved.
Go ahead and make the difference in someone's life today.
Share this with a friend and always remember:
God is at the window!
When Jesus died on the cross; he was thinking of you!


Blessed To Bless...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Holy Spirit