Selama
ini kita hanya mengenal bahwa Tuhan itu baik dan sabar, namun kali ini
kita akan belajar bahwa Tuhan itu juga tegas, disiplin dan tidak boleh
diremehkan.
Tuhan sangat tidak menyukai dosa yang sengaja dilakukan anak-anakNya bahkan para pelayan Tuhan.
I Samuel 4:1-11
menceritakan sebuah fenomena di saat sebelumnya bangsa Israel mengalami
kekalahan melawan Filistin. Oleh karena itu, mereka berniat menyertakan
Tabut Perjanjian di daerah peperangan supaya Tuhan datang dan memberi
kemenangan buat mereka. Sudah menjadi sejarah Israel seperti zaman Musa
dan Yosua, bahwa Keberadaan Tabut Perjanjian berarti Tuhan berada di
tengah-tengah mereka, dan semua musuh mereka pasti akan Tuhan
hancurkan. Sehingga saat Tabut Tuhan sampai ke daerah perkemahan,
bangsa Israel bersorak dengan nyaring sehingga bumi bergetar. Namun di
sinilah fenomena itu terjadi, bahwa sekalipun Tabut Perjanjian
menyertai mereka, mereka tetap kalah bahkan korban yang jatuh lebih
besar jumlahnya daripada kekalahan yang pertama. Akhirnya Tabut Tuhan
dirampas oleh Filistin dan dibawa ke Asdod. Namun sekali lagi di
I Samuel 5:1-12,
Tuhan kembali menyatakan fenomenanya yang kedua, yaitu hancurnya kepala
Dagon yang ditempatkan satu ruang dengan Tabut Tuhan, selain itu banyak
orang Filistin mati dan terkena borok di Asdod. Para Filistin ketakutan
dan memutuskan untuk mengembalikan ke tanah Israel, tepatnya di
Bet-Semes. Muncul kembali fenomena yang ketiga ketika Tuhan membunuh
beberapa orang Bet-Semes karena mereka lancang melihat ke dalam tabut
Tuhan.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi dan mengapa Tuhan sedemikian tegas menyatakan hukuman ? Apa yang sebenarnya Tuhan contohkan? Saya renungkan dan temukan ada 3 hal yang harus kita perhatikan :
1.
Dosa Para Pelayan Tuhan= Hidup dalam rutinitas "seperti biasanya yang
terjadi", kompromi dengan dosa, meremehkan Hadirat Tuhan
Kejahatan anak-anak Eli dan Ketidaktegasan Eli adalah salah satu penyebabnya.
I Samuel 2:12 Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN,
I Samuel 2:17 Dengan demikian sangat besarlah dosa kedua orang muda itu di hadapan TUHAN, sebab mereka memandang rendah korban untuk TUHAN.
Dicatat bahwa anak-anak Eli adalah imam-imam yang merendahkan Tuhan
bahkan mereka main dengan para pelayan perempuan di Kemah Pertemuan dan
tidur dengan mereka (
I Samuel 2:22)-padahal
Tuhan tidak pernah menetapkan adanya pelayan perempuan di pintu Kemah
Pertemuan di zaman Musa, Imam Besar Eli-lah yang menetapkannya. Eli
yang mengetahui dosa fatal tersebut malah tidak memberikan ketegasan
dan hukuman (
I Samuel 3:13). Selain itu Eli dan
anak-anaknya memakan daging mentah beserta lemak yang seharusnya untuk
korban persembahan, sehingga pastilah postur tubuh mereka sangat gemuk.
I Samuel 2:29 Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa
engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu
menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban
sajian umat-Ku Israel?
Mereka tidak menjalankan fungsi pelayanan imam dengan benar, mereka kompromi dengan dosa dan mencuri bagian Tuhan.
Oleh karena itu, Tuhan membinasakan anak-anak Eli, sedangkan Eli
meninggal karena terjatuh dan batang lehernya patah. Dicatat bahwa Eli
telah tua, penglihatannya mulai kabur dan gemuk orangnya.
Agar kemuliaan
Tuhan tidak hilang dari gerejaNya, para pelayan Tuhan harus
berhati-hati mengenai dosa kekejian dan kompromi dengan dosa. Mungkin
selama ini, kita hidup "seperti biasanya terjadi" yang membuat
kita hidup dalam rutinitas dan cenderung membuka celah dosa. Melayani
Tuhan dengan rutinitas, melayani Tuhan dengan upah, melayani Tuhan
untuk kebanggaan diri kita, melayani Tuhan asal-asalan, tidak jaga
kekudusan gaya hidup kita, adalah kekejian di mataNya.
Gaya berpacaran yang tidak benar, gaya hidup yang jelas menjadi batu
sandungan bagi orang lain adalah Kekejian para pelayan di mata Tuhan.
Jangan main-main dengan Hadirat Tuhan, jangan main-main menjadi pelayan
Tuhan.
Para
pelayan Tuhan harus jadi contoh/teladan, harus mau diarahkan/dibimbing
oleh Gembala, jangan keras hati dan semaunya sendiri. Lebih
baik kita para pelayan Tuhan tidak melayani Tuhan selama hati Tuhan
disakiti oleh kita. Pelayan Tuhan adalah imam Tuhan yang menjaga api
Tuhan tetap menyala pagi dan petang.
2. Panggilan Mula-mula yang telah kabur
Mata
Imam Eli mulai kabur. Hal itu selalu diidentikkan dengan visi/
panggilan mula-mula yang telah melenceng/hilang. Eli tidak lagi
melayani dengan kemurnian hati yang benar. Mungkin saja Eli
melayani dengan harapan imbalan yang besar. Oleh karena itu, saat itu
penglihatan dan pewahyuan Firman Tuhan sudah jarang.
"Jika tidak ada wahyu, maka menjadi liarlah rakyat!"- Amsal 29:18. Tuhan
malah berbicara kepada seorang anak kecil yang tidak pernah mendengar
suaraNya sebelumnya. Bagi Dia, itu lebih baik daripada berbicara kepada
Imam Eli yang " gemuk rohaninya".
Imam Besar Eli-lah yang berinisiatif mengadakan pelayanan kaum
perempuan di Kemah Pertemuan, seperti pelacuran bakti menyembah Baal di
Israel. Kemungkinan itu sebagai suatu daya tarik minat yang mengundang
kaum laki-laki datang ke rumah Tuhan, sehingga rumah Tuhan menjadi
banyak dikunjungi.
Namun, apakah itu menyenangkan hati Tuhan? Gereja tidak boleh terisolasi dari kemajuan teknologi yang sangat berkembang, namun bukan berarti Gereja tidak menyeleksinya.
Apakah ibadah tersebut mementingkan Kehadiran Tuhan yang kudus, atau hanya sebagai acara "entertainment"
yang berusaha menarik banyak kunjungan jemaat baru melalui musik yang
wah, setting lampu yang wah, bintang tamu dan pelayan-pelayan Tuhan
yang memukau? Lalu apa bedanya dengan acara dunia?
Perhatikan! Jika
kita telah kehilangan panggilan Tuhan, maka kita melayani dengan
kedagingan, kita melayani dengan sikap hati liar ! Apa
motivasi kita melayani Tuhan? Apa motivasi kita mengikut Tuhan? sudah
berubahkah menjadi ajang promosi, ajang aktualisasi diri, ajang
pemuasan diri, ajang cari cewek/cowok saudara seiman, melayani Tuhan
karena tidak ada kerjaan?
3. Dosa Korporat, Dosa anak-anak Tuhan= Tidak menomorsatukan Tuhan
27 tahun sejak peristiwa Tabut Tuhan dirampas oleh Filistin, barulah Tuhan menyingkapkan dosa korporat Israel melalui Samuel.
I Samuel 7: 3 Lalu berkatalah Samuel kepada seluruh kaum
Israel demikian: "Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati,
maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu
dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka
Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin."
Ternyata sejak waktu itu ketika bangsa Israel merayakan hadirnya Tabut
Tuhan dengan sorak sorai sampai-sampai bumi bergetar, tetap saja
di dalam hati mereka, Tuhan tahu bahwa ada allah asing selain Tuhan. Tuhan bukan nomor satu dalam hati mereka. Oleh karena itu, Tuhan tidak memberi kemenangan buat mereka.
Anda datang ke
ibadah atau komunitas rohani, memuji Tuhan sampai lompat-lompat, berdoa
dan menangis sampai "jengking-jengking" atau melakukan hal apapun yang
rohani, itu tidak membuat Tuhan betah di tempat itu, jika hati kita
sendiri masih tidak menomorsatukan Tuhan. Tuhan tidak akan menjawab
pergumulan kita, masalah kita, selama ada allah asing dalam hidup kita.
Apa allah asing kita? mamon/uang? keluarga? pacar?
kerjaan/sekolah/kuliah? teman-teman? hobi? ego kita sendiri? Segala hal
yang menomorduakan Tuhan adalah allah asing/ berhala kita.
I Samuel 2: 30 b "Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah. "
Mari belajar dan mengevaluasi diri kita hari-hari ini, bertobat jika
motivasi salah dan panggilan mula-mula kita kabur, bertobat jika ada
dosa-dosa yang belum dibereskan, sebelum murka Tuhan turun nyata atas
kita.
Amin
Blessed To Bless...